Ads (728x90)

Oleh Al Ustadz `Aunur Rofiq bin Ghufron

Meluruskan kekeliruan imam merupakan kewajiban umat Islam yang berilmu.
Kekeliruan imam dalam sholat tidak hanya berakibat buruk kepada dirinya
saja, tetapi akan mewariskan kesesatan kepada umat. Oleh karena itu wajib
bagi kita semua, apabila kita keliru hendaknya bersenang hati untuk
kembali kepada yang kebenaran setelah mengetahui dalilnya. Tidak boleh
malu di hadapan manusia hanya karena takut disalahkan atau gengsi karena
kehilangan wibawa. Malu dihadapan Allah lebih utama daripada malu di
hadapan manusia. Semoga Allah memperlihatkan kepada kita yang haq dan
memudahkan kita untuk menerima dan mengamalkannya. Dan memperlihatkan
kepada kita yang batil dan memudahkan kita untuk menjauhinya.

Sholat merupakan ibadah yang paling pokok setelah seseorang berikrar
mengucapkan dua syahadat. Sholat adalah ibadah yang tidak bisa dikurangi
atau ditambah, karena Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi contoh langsung kepada
sahabatnya. Para sahabat telah melihat sholat beliau setiap hari, dari
takbir hingga salam. Bahkan beliau menyuruh umatnya agar mengikuti
sholatnya tanpa menambah atau mengurangi.

Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada sahabatnya, yang juga untuk semua umatnya :

Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. (HR Bukhori:
Kitabul Adzan)
Berpijak dengan hadits di atas, maka kita selaku imam wajib mempelajari
tuntunan sholat sesuai dengan sunnah Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Beberapa Kekeliruan Imam

1. Berpakaian sangat tipis sehingga nampak auratnya.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ketika ditanya bagaimana hukumnya
seseorang yang sholat dengan memakai baju luar sangat tipis berwarna
putih, tidak memakai kain dalam, melainkan celana pendek yang menutupi
sebagian paha saja, sedangkan kulit badannya terlihat.
Beliau menjawab:
"Jika orang itu memakai celana pendek tidak menutupi perut sampai
lututnya, sedangkan baju luarnya tipis sekali, orang itu pada hakikatnya
belum menutupi aurot, karena istilah menutupi aurot hendaknya menutupi
badan sehingga, tidak kelihatan kulitnya.
Allah berfirman: Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap
(memasuki) masjid. (QS Al-A'rof: 31)".
Rosululloh ketika melihat sahabat Jabir bin Abdulloh datang kepadanya
malam hari lalu dia sholat malam bersamanya, sedangkan waktu itu dia hanya
menyelimutkan pakaian yang sangat sempit sehingga membentuk semua tubuhnya
beliau menasihatinya :
"Jika pakaian itu sempit, jadikanlah sarung (ikatkan kainmu mulai di atas
perut sampai ke bawah), jika kainmu luas sekali, maka selimutkan ke
seluruh anggota badanmu". (HR. Bukhari: Kitabus Sholat)
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata:
"Ulama' telah sepakat, bahwa orang yang sholat sedangkan kulitnya
kelihatan (karena pakaiannya yang sangat tipis) padahal ia mampu menutupi
aurotnya dengan pakaian tebal, maka sholatnya tidak sah." (Lihat Fatawa
Manorul Islam 11150)
Imam Syafi'i berkata:
"Jika orang sholat memakai baju tipis sehingga kelihatan kulimya, maka
tidak sah sholatnya". (Kitab Al-Umm 1/78)


2. Mengenakan pakaian luar yang sangat sempit

Imam hendaknya mengenakan pakaian yang lapang dan luas, tidak boleh sempit
bagian Iuamya, karena akan mengganggu ketenangan dan kekhusyu'an sholat,
bahkan akan membatalkan sholat apabila dia memakai kaos dan celana sempit,
sehingga apabila ruku' dan sujud kelihatan sebagian kulit punggungnya.
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan berkata:
"Barangsiapa sholat memakai celana sempit (press body), sedangkan dia
memakai kemeja pendek, pada waktu ruku' dan sujud tertarik kemejanya
sehingga kelihatan sebagian punggungnya yang seharusnya tertutup, maka
batal sholatnya. Ini adalah dampak buruk dan memakai pakaian yang diimpor
dari orang barat". (Al-Qoul Mubin Fii Akhthoil Mushollin 28)


3. Mengenakan pakaian bergambar

Hendaknya pakaian imam bersih dari gambar dan lukisan, agar tidak
mengganggu ketenangan orang yang sedang sholat. Dalilnya:
Dari Aisyah dia berkata:
Rosululloh memakai khomishah (baju yang berjahit dengan benang sutra atau
bulu binatang) miliknya. Baju itu banyak lukisan dan gambarnya. Lalu
bellau melihat lukisan-lukisannya. Tatkala selesai sholat, beliau berkata:
pergilah dengan membawa baju ini, serahkan kepada Abi Jahm, katakan bahwa
baju ini tadi mengganggu sholatku, dan bawalah kemari baju tebal (yang
tidak berlukisan dan bergambar) milik Abi Jahm bin Khudzaifah. (HR.
Bukhori: Kitabul Libas)
Dari Anas ia berkata:
'Aisyah mempunyai tabir (yang tipis berwarna lagi penuh dengan lukisan)
dibuat untuk tabir kamar rumahnya. Nabi menyuruh 'Aisyah: Jauhkanlah tabir
ini, sebab gambar dan lukisannya senantiasa mengganggu sholatku. (HR.
Bukhari: Kitabul Libas)


4. Isbal (menutup mata kaki)

Imam tidak boleh mengenakan pakaian yang terlalu panjang hingga menutupi
mata kaki. Maka hendaknya dia mengenakannya di atas mata kaki atau
ditengah betisnya. Dalilnya:
Dari Abu Huroiroh ia berkata:
Tatkala ada seorang laki-laki sholat mengenakan sarung yang menutupi mata
kakinya. Nabi menyuruh dia pergi agar berwudlu. Orang itu pergi untuk
berwudlu lalu datang, beliau menyuruhnva pergi lagi, ada seorang laki-laki
hertanya: "Wahai Rosululloh mengapa engkau perintah dia berwudlu lagi?".
Bellau berpaling, lalu beliau berkata: "Orang itu shalat tetapi sarungnya
menutupi mata kakinya. Sesungguhnya Allah tidak menerima sholat seorang
laki-laki yang musbil (orang yang melakukan isbal - memakai sarung atau
celana yang menutupi mata kakinya).
(HR. Abu Dawud Kitabul Libas, Imam Ahmad, Imam Nasai. Imam Nawawi berkata:
"Sanadnya shohih menurut kriteria Imam Muslim")
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bias Hasan menukll fatwa dari Ibnul Qoyyim
Al-Jauziyah menjelaskan hadits di atas:
"Maksud hadits ini -wallahu a'lam bishshowab- bahwa menutupkan sarung
sampai mata kaki termasuk perbuatan maksiat, setiap orang yang melakukan
kemaksiatan diperintah agar berwudlu dan sholat, karena wudlu itu bisa
membakar kemaksiatan". (Al-Qoul Mubin Fii Akhthoil Mushollin hal. 37)


5. Merasa paling berhak menjadi imam karena usianya yang lebih tua

Seseorang diangkat (dipilih) menjadi imam bukanlah karena usianya, tapi
yang paling bagus lagi tartil bacaan Al-Qur'annya. Dan jika mungkin, yang
paling banyak hafalannya. Dalilnya:
Dari Abu Mas'ud Al-Anshory ia berkata: Rasulullah bersabda:
Hendaklah yang menjadi imam yang pandai bacaan Al-Qurannya. Apabila mereka
sama didalam kepandaiannya, hendaklah yang paling mengerti sunnah, jika
mereka sama dalam pengetahuan sunnahnya, hendaknya yang paling pertama
hijrahnya, jika hijrahnya bersama-sama, hendaknya yang lebih dahulu masuk
Islamnya. Riwayat lain berbunyi: kemudian yang paling tua umurnya". (HR
Muslim: Kitabul Masajid wal Mawadli)
Lembaga Fatwa'Ulama Saudi Arabia berfatwa:
Pilihlah diantara mereka yang paling bagus lagi tartil bacaannya dan yang
paling banyak hafalannya.
(Fatawa Lajnah AdDaimah Lilbuhus Al-Ilmiyah Wal Ifta 7/348)


6. Tidak lancar membaca ayat Al-Qur'an dan tidak faham tajwid dan
makhrojnya.

Imam hendaknya berusaha untuk mempelajari makhroj dan tajwidul Qur'an,
agar bacaannya benar, dapat menambah kekhusyuan dan tidak meresahkan
makmum disebabkan tidak benamya bacaan imam.
Nabi bersabda:
Orang yang mahir membaca Al-Qur'an bersama-sama dengan malaikat yang mulia
yang baik, dan hiasilah Al-Qur'an itu dengan suaramu. (HR. Imam Bukhari
Kitabut Tauhid)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang imam yang tidak baik
bacaan ayatnya, beliau menjawab:
"Hendaknya kamu berusaha menghafalkan surat-surat AlQur'an dengan tajwid
dan memperhatikan makhrojnya. Aku merasa optimis -dengan izin Allah- kamu
akan mampu menghafalkannya apabila ada usaha dan kesungguhan. (Majmu'
Fatawa Ibnu Baz 4/393)


7. Tidak memperhatikan jarak sutroh (batas tabir) di depannya.

Yang benar, imam hendaknya sebelum bertakbir, berdekatan dengan sutroh
(tabir) didepannya. Dalilnya:
Dari Sahl bin Abi Hasmah sampailah berita kepada Nabi , lalu Beliau
berkata:
Apabila salah satu diantara kamu akan melaksanakan sholat menghadap ke
tabir (depan), hendaklah dekat dengan tabirnya, syetan tidaklah mampu
memutus sholatnya.
(HR Abu Dawud. Al-Albani berkata: Imam Hakim menshohihkannya, Imam
AdzDzahabi dan Imam Nawawi menyetujuinya)
Dalil jarak antara tempat berdiri Nabi dengan tabir depannya tiga hasta:
Bilal berkata: Selanjutnya Rosululloh sholat, sedangkan jarak antara
tempat beliau berdiri dengan dinding di depannya adalah tiga hasta. (HR.
Imam Ahmad)
Dalil jarak antara tempat sujud imam dengan dinding semisal berlalunya
kambing:
Dari Sahl bin Sa'ad ia berkata:
Antara tempat sujud Rosululloh dan tembok semisal tempat yang bisa dilalui
kambing.
(HR Imam Bukhori: Kitabus Sholat)


8. Tidak menghadap lurus ke arah kiblat.

Imam tidak menghadap kiblat, tetapi serong beberapa derajat ke arah kanan
(ke arah utara), padahal posisi kiblat sudah benar.
Yang benar imam lurus menghadap kiblat. Dari Jabir bin Abdillah ia
berkata:
Rosululloh apabila sholat (sunnah) di atas kendaraannya, beliau menghadap
ke mana saja kendaraannya menghadap, tetapi apa bila beliau ingin
menjalankan sholat wajib, beliau turun dan menghadap ke kiblat. (HR Imam
Bukhori: Kitabus Sholat)


9. Tidak menghadap kepada makmum untuk meluruskan shof.

Sebelum imam bertakbirotul ihram tidak menghadap kepada makmum untuk
meluruskan shof. Yang benar, sebelum bertakbirotul ihrom hendaknya imam
menghadap kepada makmum untuk meluruskan shof. Dalilnya:
Anas bin Malik berkata: Ketika selesai qomat, Rosululloh menghadap ke arah
kami dengan wajahnya. seraya berkata: Luruskan shofmu, rapatlah, karena
aku melihatmu dari belakang punggungku.
(HR Imam Bukhori Kitabul Adzan)


10. Hanya melihat shof makmum sebelum bertakbirotulihrom.

Yang benar, imam menghadap kepada makmum dan melihat shof sambil berpesan:
sawwu shufufakum (luruskan barisanmu), tarooshuu (rapatkan shofmu), suddul
kholal (rapatkan yang masih renggang) dan kalimat semisalnya. Dalilnya:
Dari Anas bin Malik dari Nabi beliau berkata: sawwuu shufufakum fa inna
taswiyatash shuhuf min iqamatishsholaat (luruskan shafmu karena lurusnya
shof termasuk menegakkan shalat)
(HR Bukhori Kitabul Adzan. Di dalam riwayat Bukhori yang lain, Nabi
bersabda: Aqiimuu shufufakum (luruskan shofmu), tarooshshuu (rapatlah))
Didalam riwayat Abu Dawud, Nabi bersabda:
Haadzuu bainal manakib (rapatkan antara pundak), suddul kholal (tutuplah
yang kosong).


11. Melafadzkan niat dengan bacaan usholli

Ketika akan bertakbirotul ihram imam melafadzkan niat (misal : membaca
usholli .... dan seterusnya) bahkan kadang-kadang mengeraskannya. Niat
itu tempatnya dihati, tidak perlu diucapkan dengan lisan, sebab ucapan
yang pertama pada waktu sholat ialah takbir "Allohu Akbar" sebagaimana
sabda Nabi Muhammad:
Dari 'Aisyah, dia berkata: Rosululloh memulai sholatnya dengan takbir,
selanjutnya beliau membaca alhamdulillahi rabbil 'alamin. (HR. Muslim:
Kitabul Sholat)
Imam Nawawi berkata:
"Niat hendaknya hadir bersamaan dengan membaca takbirotul ihram". (Sifatus
Sholatin Nabi oleh Al-Albani: 85)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata
"Melafadzkan niat ketika akan bertakbirotul ihrom tidak ada contoh dari
Nabi Muhammad, bahkan perbuatan itu termasuk bid'ah".
(Majmu' Fatawa Ibnu Baz 4/202)


12. Berulang-ulang mengangkat kedua tangannya ketika bertakbirotul ihrom.

Yang benar mengangkat tangan ketika bertakbirotul ihram hanya sekali,
sebagaimana contoh dari Nabi dan para sahabatnya.
Ibnul Qoyyim Aljauzy berkata:
"Di antara macam-macam waswas yang merusak sholat ialah mengulang-ulangi
sebagian kalimat, seperti ketika duduk bertahiyyat membaca at ..at
..attahi ..attahiyatu, pada waktu salam membaca as.. as ..assaa
..assalamu'al dan ketika bertakbir ak ..ak ..ak ..akbar atau semisalnya.
Pengulangan itu pada dzohimya membatalkan sholat. Jika yang melakukan imam
maka dia telah merusak sholat makmum. (Ighotsatu Lahfan Min Mashoyidis
Syaithon 1/158)


13. Bersedekap di atas lambung kiri

Yang benar adalah bersedekap dengan meletakkan telapak tangan kanan di
alas punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan kiri, atau di
atas lengan tangan kiri, lalu diletakkan di atas dada, sedangkan tangan
kanan kadang kala menggenggam tangan kiri dan kadangkala tidak. Dalilnya:
Dari Abu Huroirah dia berkata: Rosululloh melarang meletakkan Iangan di
alas lambung ketika shalat. (HR Abu Dawud).
Adapun dalil contoh bersedekap menurut sunnah:
Selanjutnya Rosululloh meletakkan tangan kanannya di alas tapak tangan
kiri, (atau) di alas pergelangan (langan kiri) atau di atas lengan kiri.
(HR Abu Dawud Kitahus Sholal. An-Nasai Kitabul lftitah. Ibnu Hibban di
dalam shohihnya (485) Al-Albani berkata: sanadnya shahih. )
Lalu beliau meletakkan dua tangannya di atas dada, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab shohihnya: 1/54.


14. Membaca AI-Fatihah terlalu cepat, menyambung ayat dengan ayat yang
lain (tidak berhenti setiap ayat).

Yang benar, imam ketika membaca surat Fatihah atau surat yang lain pada
waktu sholat hendaknya berhenti setiap ayat.
Rosululloh memberi contoh kepada sahabatnya membaca Fatihah ayat demi
ayat, membaca Bismalahir Rahmaanir Rahiim lalu berhenti, Alhamdulillahi
rabbil 'alamiin lalu berhenti, Ar-Rahmaanir Rahiim lalu berhenti dan
demikianlah seterusnya. demikian pula bacaan beliau untuk setiap surat,
beliau berhenti setiap pangkal ayat dan tidak menyambungnya.
(Lihat Sifatus Sholatin Nabi oleh Al Albani 96)


15. Membaca robbighfirli seusai membaca Fatihah.

Yang benar, Imam setelah membaca surat Fatihah dengan jahr, hendaknya
membaca aamiin dengan suara keras pula. Adapun dalilnya sebagaimana point
. Adapun membaca robbighfirli setelah membaca Fatihah termasuk amalan
bid'ah.


16. Tidak mengucapkan 'amin' dengan suara keras

Yakni usai membaca Fatihah pada dua roka'at pertama sholat jahr.
Yang benar: ketika Imam membaca Fatihah dengan suara keras hendaknya
membaca aamiin dengan suara keras. Dalilnya:
Dari Wail bin Hujr ia berkata: Rasulullah apabila selesai membaca waladh
dhaaalliiin, beliau membaca aamiin dengan suara keras.
(HR Abu Dawud: Kitabus Shalat dengan sanad yang shahih)


17. Memanjangkan bacaan takbir

Membaca takbir intiqol (takbir pada saat pindah gerakan shalat) dengan
melantunkan suara, seperti: ...aaaaallahu akbar atau ...allaaaaahu akbar
atau ..aaallaaaaahu akbaaaaar.
Bacaan takbir yang benar ialah allaahu akbar (huruf lam jalalah dibaca dua
harokat), baik pada waktu takbirotul ihram atau takbir intiqol, karena
bacaan yang seharusnya dibaca pendek lalu dibaca panjang akan merubah
makna.
Ibnu Hazm berkata:
"Tidak dibenarkan bagi imam memanjangkan (melanturkan) bacaan takbir,
tetapi hams mempercepat. Tidak dibenarkan ketika ruku', sujud, berdiri dan
duduk kecuali harus sempuma bacaan takbimya". (Al Muhalla: 4/151)


18. Tergesa-gesa dalam setiap gerakan, sehingga hilang kekhusu'annya.

Yang benar setiap gerakan hendaknya disertai dengan tuma'ninah, karena
Nabi pernah menyuruh orang agar mengulangi shalatnya ketika sholamya
terlalu cepat. Beliau bersabda:
"...maka apabila kamu ruku', letakkan dua tapak tanganmu di atas dua
lututmu, ulurkan punggungmu, kokohkan ruku'mu, jika kamu mengangkat
kepalamu (dari ruku') luruskan tulang rusukmu sehingga kembali tulang itu
kepada persendiannya, jika kamu sujud maka kokohkan sujudmu, jika kamu
mengangkat kepalamu (dari sujud) duduklah di atas pahamu yang kiri,
selanjutnya kerjakan itu semua setiap ruku' dan sujud. (HR Imam Ahmad:
Musnad Al-Kufiyyin)


19. Mengusap wajah dengan tangan setelah mengucapkan salam

Yang benar, setelah salam tidak mengusap muka dengan tangannya, karena
tidak ada contoh dari Nabi. Syaikh Ibnu Baz ketika beliau ditanya tentang
hukum mengusap muka setelah salam, beliau menjawab:
Tidak ada tuntanannya, tetapi jika mengusap mukanya sebelum salam hukumnya
makruh, karena Nabi ketika salam pada waktu sholat subuh, dahinya
kelihatan bekas tanah basah, karena pada malam harinya turun hujan. Ini
menunjukkan lebih utamanya sebelum salam tidak mengusap mukanya.
(Majmu' Fatawa Ibnu Baz: 4/272)


20. Tidak menghadap kepada makmum setelah salam

Biasanya imam tetap menghadap kekiblat setelah salam atau menghadap ke
utara (arah kanan kiblat). Yang benar, setelah salam imam boleh menghadap
kiblat sebentar saja untuk istighfar 3 kali dan berdzikir seperti dzikir
Nabi dibawah ini:
Dari 'Aisyah dia berkata: Nabi apabila setelah salam, beliau tidak duduk
melainkan kira-kira membaca: "Allaahumma antas Salaam wa minkas salam
tabaarakta dzal jalaali wal ikroom."
(HR Muslim: Kitabul Masajid Wal Mawadli')
Syalkhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
"Tidak layak bagi imam duduk setelah salam menghadap kiblat melainkan
untuk beristighfar 3 kali dan membaca: "Allaahumma antas Salaam wa minkas
salam tabaarakta dzal jalaali wal ikroom."
(Majmu' Fatawa Ibnu Timiyah 22/505)
Rosululloh apabila selesai salam, mengbadap kepada makmum, dalilnya:
Kemudian beliau salam, lalu beliau menghadap ke arah kami.
(HR Muslim, Kitabul Masajid wal Mawadli')
Beliau duduk lama setelah salam menghadap kepada makmum bila ada
kepentingan, seperti memberi nasihat dll. Dalilnya:
Dari Anas, dia berkata: Rosululloh pernah mengimami kami pada suatu hari,
setelah beliau salam beliau menghadap kepada kita, lalu beliau memberi
nasihat: "Wahai manusia ... "
(HR Muslim Kitabus Sholat).


21. Memimpin dzikir dan membaca Fatihah bersama-sama setelah salam

Yang benar, dzikir setelah sholat diakukan sendiri-sendiri bagi yang
berhajat. Lembaga Fatwa `Ulama Saudi Arabia berfatwa:
"Sedangkan petunjuk Nabi bahwa beliau berdzikir dan berdo'a sendirian,
beliau tidak pemah mengomando sahabatnya untuk berdzikir bersam-sama.
Adapun sebagian manusia membaca Fatihah dan do'a bersama-sama dikamandoi
oleh imam setelah shalat termasuk amalan bid'ah."
(Fatawa Lajnah Ad-Daimah Lilbuhus Al-Ilmiyah Wal Ifta' 7/122)


Dikutip dari majalah Al-Furqon Edisi 11 Th. I 1423H hal 11 - 12


Melaksanakan+Shalat+Berjamaah,+Makmum+Tidak+Harus+Berdiri+di+Belakang+Imam.gif (826×576)
SUMBER

Poskan Komentar

Blogger